Skip to main content

Pandemi Covid-19 jadi Ajang Pembukaan, Menparekraf Sandiaga Uno Salut dengan Digelarnya Festival IWTIF 2021

Penulis: Heru Sutrisno
Pojokviral
Indonesia Wellness Master Association (IWMA), Wellness & 
Healthcare Entrepreneur Association (WHEA) & Indonesia Wellness Spa Professional 
Association (IWSPA d/h INDSPA) didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi 
Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pemerintahan Daerah dan Bank BNI menggelar Indonesia Wellness Tourism International  Festival (IWTIF).

Festival wellness (kebugaran) terbesar di Indonesia itu  akan berlangsung mulai tanggal 1 sampai 30 September 2021 secara virtual. Pembukaan IWTIF 2021 itu sendiri dilakukan secara daring dan disiarkan secara online melalui  YouTube IWTIF.

Acara yang  dibuka oleh Menparekraf Sandiaga Salahudin Uno ini mendapat sambutan hangat para peserta dari berbagai penjuru dunia.  Dalam kegiatan tersebut, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggandeng asosiasi bidang spa dalam  pengembangan pariwisata kesehatan (health tourism) dan  wellness (kebugaran).

Menparkeraf Sandiaga Salahudin Uno, Rabu (1/9/2021) menyatakan bahwa pandemi Covid-19 menjadi ajang pembuka perubahan pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dalam merespon tren dunia.

“Terdapat beberapa fokus new nomo dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Salah satunya wellness tourism menjadi alternatif liburan, selain solo travel, virtual tour, stay  vacation,” kata Sandiaga, semangat. 

Wellness tourism ini, menurutnya, sebuah produk yang sangat menjanjikan. Sampai saat ini, kata Sandiaga,  wisata kebugaran itu terus mengalami kenaikan, dari 4,2 triliun US dolar di tahun 2017 menjadi 4,5 triliun US dolar di tahun 2019. 

“Kenaikannya sangat signifikan mencapai  919 miliar US dolar dengan pertumbuhan 7,5 % pertahun,” tambahnya.

Diungkapkan  Sandiaga, wellness tourism masuk dalam empat jenis tourism yang dikembangkan oleh Kemenkes dan Kemenparkeraf, selain wisata medis, sports, health dan wisata ilmiah kesehatan

Karena itu, Sandiaga menuturkan, langkah yang dilakukan Kemenparekraf adalah, pertama penerbitan buku panduan penanganan pencegahan Covid-19. Kedua, diferensiasi produk wisata wellness di Yogyakarta,Solo dan Bali yang tertuang dalam perjalanan pengembangan wellness tourism tahun 2020.

“Dalam produk ini, wellness dikombinasikan dengan  echo wisata, wisata budaya, wisata kuliner dan wisata medis,” tambahnya.

Adapun identifikasi hasil pengembangan wellness tourism di tahun 2020, sambung Sandiaga, sasarannya adalah wisawatan nusantara, khususnya female travelers, milenial, komunitas kebugaran, urban sosialita, lansia dan diaspora daerah.

“Walau  tertinggal dengan negara lain, kita harus bergerak bersama, mengingat kekayaan alam dan tradisi di Indonesia yang berpotensi menciptakan keragaman industri wellness di dunia, tegasnya.

Sandiaga mengatakan, salah satu keunggulan Indonesia adalah hasil kekayaan alam berupa rempah-rempah asli Indonesia yang bermanfaat dalam perawatan tubuh, kecantikan, pengobatan dan terapi.

Sandiaga juga mengakui bahwa Indonesia Wellness Master Association (IWMA) telah menetapkan 15 ethno wellness Indonesia yang siap bersaing  dengan perawatan kecantikan dari seluruh dunia. 

“Untuk itu penting bagi stake holder untuk bersama dalam pengembangan wellness tourism,” ujarnya. 

Sandiaga mendukung dan mengapresiasi Festival  Indonesia Wellness Tourism International  Festival (IWTIF) 2021. Sebab, festival ini sebagai salah satu upaya sebagai stakeholder dalam menciptakan platform mempromosikan dan memasarkan produk wellness tourism. 

“Saya berharap, acara ini berjalan dengan baik dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Sukses bagi IWTIF. Sukses untuk wellness Indonesia. Salam sehat, salam indonesia maju, penuh semangat,” tandasnya.

Peringkat 17
Pembukaan festival IWTIF tersebut, selain asosiasi wellness dan dibuka Menparekraf Sandiaga Uno, juga dihadiri KaBaparekraf, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events); perwakilan KBRI Bangkok (Thailand), Den Haag (Belanda), London (Inggris), Kuala Lumpur (Malaysia) dan KJRI Cape Town (Afrika Selatan). sementara untuk perwakilan pemerintah daerah ada dari Jawa Tengah, Maluku, dan Papua.

Turut memeriahkan perwakilan Kemenkop dan UKM, Kemenperin; serta para UMKM/IKM Wellness; Wellness  Enthusiast; dan Diaspora Indonesia. 

Ketua Whellness Healthcare Enterpreneur Association (WHEA) sekaligus Ketua Panitia IWTIF 2021, Agnes Lourda Hutagalung mengatakan, peluncuran festival wellness terbesar di Indonesia ini selaras dengan fakta bahwa Indonesia menempati peringkat ke-17 dari aspek wellness tourism market.

“Wellness  tourism  merupakan pilot project untuk mendorong dan mempromosikan bisnis inklusif di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Lourda, pandemi Covid-19 telah memberikan dampak besar bagi para pelaku usaha pariwisata dan pelaku  usaha lainnya, khususnya terkait dengan kesehatan dan aktivitas berbasis alam. Kearifan lokal 
di nusantara kurang lebih ada 1.340 suku bangsa, bahan baku produk rempah-rempah, keragaman seni budaya serta keramahtamahan dan act of services terapis Indonesia dapat  berkontribusi dalam pengembangan wellness tourism di dunia.

“Wellness berbasis kearifan lokal 
atau ethnowellness ini adalah kunci bagi Indonesia untuk berkiprah di ajang dunia dan berpeluang  dalam pemulihan ekonomi nasional dari aspek pariwisata,” tambahnya. 

Di sisi lain, lanjut Lourda, UMKM/IKM Indonesia adalah penyangga kekuatan ekonomi nasional. “Dengan melihat  industri kecantikan dan wellness di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat, maka kita 
perlu mempromosikan produk-produk wellness buatan UMKM/IKM ke masyarakat 
lokal dan internasional,” terangnya. 

Sehingga, Lourda yakin, dengan demikian  kecintaan terhadap produk inovasi lokal ini dapat membantu masyarakat Indonesia bertahan di masa pandemi.

Lourda mengungkapkan, melalui IWTIF 2021, kurang lebih ada 200 UKM/IKM di bidang wellness ditampilkan secara virtual melalui berbagai rangkaian kegiatan. Di antaranya, wellness & tourism webinar, wellness training 
& workshop, online marketplace, game & doorprize, dan brand awarding yang dapat diakses serta dihadiri secara umum melalui website www.iwtif.com.

Lebih jauh, Lourda mengatakan,  festival berskala internasional ini melibatkan 12 negara bekerjasama dengan KBRI maupun diaspora dari berbagai negara.

“Kami ingin menjadikan ethnowellness Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Menciptakan inclusive business melalui pelayanan, makanan minuman dan ramuan herbal asli Indonesia,” terangnya.

Selain itu, lanjutnya, mengangkat potensi budaya melalui produk herbal dan produk wellness UMKM dan brand owner di dalam dan luar negeri.

 

“Target kita 500.000 pengunjung dari lokal dan internasional selama masa penyelenggaraan. Saya harap acara ini bisa berjalan dengan baik dan sukses, serta dapat dukungan semua pihak demi  mencapai tujuan bersama, yaitu membangun kembali pariwisata dan perekonomian Indonesia,” tegasnya.

Multiply  Effect

Rizki Handayani, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan 
(Events) Kemenparekraf/Baparekraf menambahkan, Indonesia Wellness Tourism Internasional Festival (IWTIF) diselenggarakan dengan tujuan  untuk melestarikan, mempromosikan dan menjadikan ethnowellness di Indonesia sebagai 
warisan budaya dunia. 

“Sehingga  potensi budaya melalui produk herbal dan produk wellness UMKM Indonesia bisa dikenal dan dinikmati oleh masyarakat dalam dan luar negeri,” katanya.

Kegiatan IWTIF 2021 ini diharapkan dapat menjadi ajang promosi wellness tourism Indonesia  sebagai top of mind pasar dalam dan luar negeri melalui pemasaran dan penjualan produk dan  pelayanan secara virtual.

“Sehingga dapat menyumbang nilai ekonomi melalui rempah dan jasa  wellness spa Indonesia dengan berbagai multiply effect yang ada.