Skip to main content

Duh Nasib, Ternak Ayam Divonis Bui 1 Tahun Penjara, Denda 1 Miliar

Pojokviral
Seorang peternak ayam di Banyumas berinisial MS (40) dihukum 1 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar oleh Pengadilan Negeri (PN) Banyumas. 

MS dinyatakan melanggar UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup karena tidak memiliki izin.

Sebagaimana dikutip dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Banyumas, Kamis (18/3/2021), kasus bermula saat tim dari Polresta Banyumas melakukan sidak pada 9 Juni 2020. 

Sidak dilakukan di sebuah Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas.

Dalam sidak itu, ditemukan usaha peternakan ayam petelur dengan 4 kandang ayam dengan 3 kandang yang masih ada ayam petelur. Totalnya ada 15 ribu ekor ayam petelur yang sedang berproduksi.

Kemudian saat tim Polresta Banyumas melakukan pengecekan, pemiliknya tidak dapat menunjukkan/tidak memiliki izin usaha dan izin lingkungan. Polisi pun memproses secara hukum dan melimpahkan ke pengadilan.

Dalam dakwaannya, jaksa menuntut MS melanggar Pasal 36 ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

Pasal itu menjelaskan setiap usaha atau kegiatan yang memenuhi kriteria tertentu wajib memiliki izin lingkungan dan yang harus memenuhi izin lingkungan adalah kegiatan atau usaha yang wajib amdal dan wajib UKL UPL keseluruhannya meliputi izin lokasi, IMB, izin lingkungan dan izin usaha atau izin kegiatan.

"Hal ini juga diatur dalam Peraturan Bupati Banyumas Nomor 35 Tahun 2016 tentang jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) dalam lampiran huruf d untuk kegiatan budi daya ayam ras petelur (D4) dengan skala/besaran jumlah induk lebih dari 5.000 ekor wajib dilengkapi dengan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) serta izin lingkungan," urai jaksa.

Disebutkan pula dalam dakwaan, MS sudah lama mendirikan usaha peternakan ayam jenis ayam petelur itu, yaitu sejak 2009. Usaha itu menyerap 30 tenaga kerja dengan jumlah produksi telur 12 ribu butir per hari atau sekitar 800 kg per hari.

Modal awal MS membeli bibit ayam petelur sekitar Rp 13 ribu per ekor dengan masa akhir produksi ayam petelur tersebut 80 minggu. Omzet per bulan rata-rata Rp 200 juta dengan ongkos produksi Rp 19 ribu/kg karena mengikuti harga bahan baku ternak, listrik, dan penyakit yang dapat mempengaruhi produksi ayam.

Pada 1 Maret 2021, jaksa menuntut MS selama 1 tahun dan denda Rp 1 miliar subsider 1 bulan penjara. Tuntutan itu diamini PN Banyumas.

"Menyatakan Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan kegiatan tanpa izin lingkungan. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 tahun dan pidana denda sejumlah Rp 1 miliar dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 1 bulan," demikian putus PN Banyumas.

Duduk sebagai ketua majelis Abdullah Mahrus dengan anggota Agus Cakra dan Suryo Negoro. 

"Membebankan biaya perkara kepada Terdakwa sejumlah Rp 5.000," ucap majelis dalam sidang pada Rabu (17/3) kemarin.

Sumber: detikcom